Setiap kami ibadah, kami selalu menangis. Kami seorang petani yang hanya mampu ibadah di tenda, itupun harus bongkar-pasang.
Atapnya seng tipis & berkarat yang berlubang. Lantainya masih berupa tanah sehingga saat hujan becek dan penuh lumpur.
Pdt. Martinus Tino berjuang mati-matian jadi petani, penghasilannya cuma puluhan ribu, beliau tabung demi bisa renovasi rumah gubuk yang disulap jadi gereja.
Sebanyak 182 jemaat beribadah di kapel yang dindingnya retak-retak, atap seng yang bocor, serta rangka atap kayu yang sudah lapuk.