
“Kami selalu berdo’a kepada Bapa di Surga, kiranya suatu hari kami punya gereja yang layak untuk kami beribadah, ada atap dan dinding yang kokoh agar tidak perlu khawatir gereja roboh sewaktu-waktu karena angina kencang.” – Umat Gereja Katolik Kapela Santo Fransiskus Xaverius Taloeb, NTT.
Bayangkan Anda sedang berdoa di tengah ibadah suci. Tiba-tiba, angin kencang menerpa, atap seng berderak keras seperti ingin terbang, dan hujan deras mulai masuk melalui celah-celah dinding yang lapuk. Lantai gereja basah, udara dingin menyusup hingga ke tulang. Tapi umat Tuhan tetap bertahan, menyanyi dan berdoa, karena bagi mereka, rumah Tuhan bukan soal kemegahan, tapi tempat hati bersandar.
Itulah realita ibadah di Kapela Santo Fransiskus Xaverius Taloeb – sebuah tempat ibadah sederhana di balik perbukitan, yang berdiri bukan karena anggaran besar, tetapi karena cinta dan gotong royong umatnya.
Kapela Stasi Santo Fransiskus Xaverius Taloeb ini pertama kali dibangun pada tahun 2002 dan dipimpin oleh Pater Thomas Tamal dan terletak di Taloeb, Maurisu, Kabupaten Timor Tengah Utara dengan atap alang-alang. Setahun kemudian, diganti menjadi daun gawang – sejenis daun yang lebih kuat – namun pada tahun 2009, kapela ini roboh dihantam angin kencang. Ketika itu, umat berkumpul di bawah langit terbuka, membangun tenda sederhana agar tetap bisa beribadah.
Frederikus, seorang katekis, dan Hendrikus, Ketua Stasi, menjadi saksi perjuangan itu. Ketika roboh, umat saling bahu-membahu: setiap keluarga menyumbang dua lembar seng, satu sak semen, dan kembali membangun dari puing-puing. Meski Mayoritas umat adalah petani jagung, penggarap ladang kering, peternak kambing, sapi, dan ayam yang cukup untuk kebutuhan hidup sehari hari saja. Ibu-ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga, gereja ini kembali berdiri—bukti kasih dan keteguhan umatnya.

Kapela Stasi Santo Fransiskus Xaverius Taloeb menampung 76 keluarga dengan jumlah 436 jiwa. Namun, kondisi bangunannya kini sangat memprihatinkan. Dinding dari bebak (anyaman bambu) banyak berlubang, Lantai masih berupa semen kasar, tidak ramah untuk anak-anak dan orang lanjut usia, Jendela kayu tidak menutup rapat, membuat udara masuk begitu saja, Atap seng sudah berkarat dan mudah terlepas ketika angin kencang datang.
Saat musim hujan dan angin tiba, ibadah menjadi tantangan besar. Umat sering merasa tidak nyaman, basah, bahkan khawatir atap akan roboh. Namun mereka tetap datang, tetap berdoa – karena ini satu-satunya tempat yang mereka miliki untuk menyembah Tuhan.
"Kami tidak ingin ketakutan lagi, tidak ingin merasa tidak nyaman saat ibadah. Kami hanya ingin rumah Tuhan yang layak – tempat kami bisa merayakan iabdah dan hari raya dengan damai," ujar Bapak Frederikus.
Harapan umat sederhana: mereka ingin sebuah gereja yang layak dan aman. Bukan yang mewah, tapi cukup kuat untuk menahan angin dan hujan, cukup nyaman untuk duduk dan beribadah tanpa rasa takut.

Tersentuh dengan kondisi Gereja Kapela Stasi Santo Fransiskus Xaverius Taloeb, Yayasan Mercy Indonesia berusaha mewujudkan kerinduan 436 umat Tuhan di Gereja Kapela Stasi Santo Fransiskus Xaverius Taloeb untuk dapat beribadah di gedung gereja yang layak.
Mari kita dukung pembangunan Gereja Kapela Stasi Santo Fransiskus Taloeb & 436 umat Tuhan, kiranya mereka tetap setia kepada Tuhan dan tidak mudah menyerah dalam beribadah dan terus menjalani kehidupan meskipun dalam kondisi yang sulit saat ini.
Sahabat, mari bantu dengan cara:
![]()
Menanti doa-doa orang baik