
“Meski atapnya bocor dan dindingnya tak layak, kami tetap datang beribadah. Karena kami percaya, Tuhan tetap layak menerima pujian kami, di tempat sederhana sekalipun.” — Fredis Naktonis, Penatua Jemaat Betel Oefafi
Nama saya Fredis Naktonis, penatua Gereja GMIT Mata Jemaat Be’tel Oefafi Wilayah Fatu Ulan Klasis Amanuban Selatan. Saya mulai melayani sebagai majelis sejak tahun 1985.

Setiap hari Minggu pagi, kami berjalan kaki menyusuri jalan kampung menuju gereja kecil kami di Fatu Ulan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Gereja ini berdiri sejak tahun 1960 dan menjadi tempat ibadah bagi lebih dari 400 jemaat Tuhan. Namun kini, setiap kali saya melangkah ke sana, hati ini terasa nyeri.


Dulu...
Gereja ini dibangun dengan gotong royong.
Bukan dengan uang, karena kami tidak punya banyak. Tapi kami punya semangat dan kasih untuk Tuhan. Kami tebang kayu dari hutan, anyam alang-alang, dan pasang sendiri atapnya. Semuanya kami lakukan bersama – satu kampung, satu hati – untuk mendirikan rumah Tuhan.
Bertahun-tahun berlalu.
Anak-anak lahir, orang tua berpulang. Tapi gereja ini tetap jadi pusat kehidupan kami – tempat kami menikah, membaptis anak-anak, menangis saat kehilangan, dan berdoa agar hujan turun bagi ladang-ladang kami.
Pada tahun 1980-an, kami mulai mengganti atap alang-alang dengan seng. Kami kerjakan sendiri, pakai tangan dan tenaga yang kami miliki, tanpa banyak bantuan dari luar.
Sekarang...
Kalau hujan turun, kami harus siap-siap…
Karena air bukan hanya turun di luar, tapi juga di dalam gereja. Atapnya bocor di banyak tempat.
Kadang anak-anak duduk menggenggam Alkitab dengan tangan basah.
Kadang kami harus pindah bangku di tengah-tengah khotbah karena air menetes dari atas.
Kayu-kayu penyangga sudah mulai lapuk dan dimakan rayap. Kami khawatir suatu saat roboh. Tapi ini satu-satunya tempat kami bisa berkumpul untuk beribadah. Kami tetap datang. Kami tetap bernyanyi. Kami tetap percaya.
Gereja kami berada di lembah bukit. Angin timur sering datang dengan kencang. Pintu dan jendela bergoyang. Tapi tak ada yang mengeluh, tak ada yang pulang. Karena kami tahu, kalau bukan di sini… di mana lagi kami bisa datang bersama-sama kepada Tuhan?
Kami Punya Harapan
Hari ini saya berdiri di depan gereja ini bukan hanya untuk menceritakan kesedihan kami… tapi juga kerinduan kami.

Kami ingin membangun kembali gereja ini.
Bukan yang mewah, bukan yang besar.
Tapi cukup layak, cukup kokoh, cukup nyaman untuk tempat kami beribadah.
Kami ingin: Atap yang tidak bocor, Tiang-tiang yang kuat, Bangku yang tidak goyah dan Ruang sederhana untuk anak-anak sekolah minggu
Sejak tahun 2016, kami mulai membangun gereja ini secara swadaya. Kami memulai dari fondasi, mendirikan tiang-tiang, dan memasang atap seadanya. Semua kami kerjakan dengan tenaga sendiri dan semangat yang kami miliki.

Namun kini, langkah kami terasa semakin berat. Tenaga kami terbatas. Dana yang kami miliki pun sangat minim. Kondisi ekonomi yang lemah membuat penghasilan kami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tapi satu hal yang tak pernah padam: Hati kami tetap rindu menyelesaikan rumah ibadah ini. Karena kami percaya, Tuhan layak menerima yang terbaik—meski kami sendiri dalam keterbatasan.

Tersentuh dengan kondisi ini, Yayasan Mercy Indonesia berkomitmen untuk membantu mewujudkan kerinduan Jemaat GMIT Betel Oefafi – agar mereka dapat beribadah di rumah Tuhan yang layak dan aman.
Mari sahabat, kita bersama-sama mendukung pembangunan gereja ini. Biarlah lebih dari 400 jemaat Tuhan di bukit Fatu Ulan tetap setia, tidak menyerah dalam ibadah meski dalam kondisi yang sulit.
Mari Bantu Mereka Membangun Rumah Tuhan
Cara Berdonasi:
Setiap rupiah yang Anda berikan akan sangat berarti.
Karena bersama-sama, kita bisa menjadi jawaban atas doa mereka.
Tuhan memberkati setiap kebaikan hati Anda.
![]()
Menanti doa-doa orang baik