
Ia tidak tinggal di rumah, melainkan di sebuah lubang tanah yang digalinya sendiri. Bukan karena pilihan, tetapi karena tak ada lagi tempat untuk berpulang
Namanya nenek Marselina Missa Otu, usianya 76 tahun, bertempat tinggal di Putun, Kec. Amanatun Selatan Nusa Tenggara Timur. Di tengah hutan yang sedikit jauh dari pemukiman warga. Sejak tahun 1989, nenek Marselina sudah tinggal di tempat ini seorang diri.
Suami dan anak-anaknya telah lama meninggal dunia, menyisakan ia sendiri melawan waktu dan sepi. Hidup seorang diri, tanpa keluarga yang menemani, tanpa listrik, tanpa lantai semen, dan tanpa tempat tidur yang layak. Hanya ada tikar lusuh dan cahaya redup yang masuk dari sela-sela atapnya yang bocor.

Untuk masuk ke rumahnya, harus merunduk... lalu merayap ke dalam. Rumah itu digali ke bawah tanah, hanya cukup untuk satu orang duduk atau tidur meringkuk. Tak ada ventilasi, tak ada jendela, dan saat hujan datang, tanah itu akan lembab, basah, dan dingin menembus tulang.
Namun dari rumah sekecil itu, dari tubuh yang selemah itu… kami melihat sesuatu yang sangat besar: ketabahan.

Nenek tidak meminta apa-apa. Tidak pernah mengeluh. Tapi setiap kerutan di wajahnya, setiap batuk kecilnya, setiap kali ia menatap langit... seakan berbisik, “Masih adakah yang peduli?”

Setiap hari, nenek menghabiskan waktunya di sekitar gubuk yang ia sebut rumah,
membersihkan dan memotong rumput yang tumbuh liar di sela-sela tanaman jagung yang ia tanam sendiri. Jagung itu bukan untuk dijual, tapi untuk bertahan hidup.
Air bersih tak pernah mengalir ke rumah ini. Setiap tetes yang jatuh dari atap bocor ia tampung dengan wadah seadanya, itulah yang ia gunakan untuk minum dan memasak.

Untuk memasak pun, ia harus mengumpulkan kayu bakar sendiri, lalu menyalakan api di tengah gubuk kecil itu, karena tak ada dapur, tak ada ruang yang cukup, dan tak ada pilihan lain.
Saat kami masuk ke dalam gubuk itu dan melihat dengan mata kepala sendiri:
tak ada apa-apa.Tak ada kasur, tak ada perabot.Hanya tanah, kayu tua, dan tubuh rapuh yang berjuang sendiri melawan waktu.

Saat itu kami tak bisa menahan air mata. Bagaimana mungkin di negeri yang besar ini, masih ada seorang nenek yang harus hidup seperti ini?
Kami tahu, tidak ada yang bisa mengembalikan keluarganya. Tapi kita bisa menghadirkan kehangatan baru, sebuah rumah yang layak untuk ia tinggali selama sisa usianya. Kita bisa menjadi wujud kasih terakhir yang ia terima di dunia ini.
Melihat kondisi Nenek Marselina Missa Otu yang hidup dalam keterbatasan, Yayasan Mercy Indonesia tergerak untuk mewujudkan kerinduan terbesarnya: memiliki sebuah rumah layak, tempat ia bisa beristirahat dengan damai di sisa usianya.Sahabat, mari bantu dengan cara:
Terima kasih!
![]()
Menanti doa-doa orang baik